Jumat, 03 Januari 2014

Tulisan 4


Jawaban
Di suatu hari, Didi dan ibu nya berada di sebuah rumah sakit yang terletak di kota tempat ia tinggal, pada saat itu Didi dan ibu nya sedang menunggu giliran untuk memerikasakan kondisi kesehatan didi yang mulai membaik, dan saat itu lewatlah sebuah kasur dorong yang berada di rumah sakit tersebut dengan seorang yang sudah tergeletak di atas nya dan di tutupi dengan selembar kain putih, tampak juga orang yang mengiringi dengan wajah haru dan isak tangis yang amat dalam , saat itu salah seorang dari mereka menelfon kerabat nya untuk memberitahukan telah meninggal nya saudara mereka.
Pada saat itu Ibu Didi segera mengucapkan lafas inalilahi wainaillahi rojiun dan di ikuti oleh Didi dengan  terbata bata, ia mengatakan lafas itu dengan terbata bata maklum karna ia masih ber umur 6 tahun, setelah kasur dorong tersebut lewat Didi segera bertanya pada Ibu nya,
Didi : Ma, apakah meninggal itu?”
Mama : meninggal ialah pergi nya seseorang dari kehidupan di dunia, ia akan meninggalkan semua urusan dan orang-orang yang ada di dunia ini, dan ia akan melanjutkan urusan nya di akhirat yang akan di atur oleh Allah”
Didi: apa itu sama dengan mati?”
Mama:ia nak, hanya kata mati ber arti kata yang lebih luas, begitu”
Didi: apa suatu saat aku dan Mama juga  akan mati?”
Mama:(tersenyum mendengar kata kata anak nya yang polos) tentu nak , semua orang akan mati, karna tak ada yang kekal di dunia ini”
Didi: bila Didi mati dan Mama juga mati apakah kita bisa bertemu?”
Mama: tentu nak, apabila kamu selalu bersikap baik, InsyaAllah kita akan bertemu di surga”
Didi pun tersenyum memandang ibu nya, ibu pun mengelus kepala Didi dengan kasih sayang, dalam hati ia bersyukur karna mempunyai anak sebaik dan sepintar Didi, dalam lamunan itu tiba tiba ibu Didi terkejut mendengar suara  seorang suster memanggil no urutan 4, yaitu urutan no Didi, segera saja ibu dan Didi masuk ke ruang dokter, Didi anak yang pintar , iya tidak pernah menagis bila di bawa ke rumah sakit, ia tidak takut bila terkadang harus di suntik, karna ia sudah biasa dengan kondisi ini , Didi mengidap penyakit leukimia yaitu kanker darah , sejak berusia 4 tahun  ia di fonis dokter  mengidap penyakit leukimia, walaupn penyakit nya itu tergolong sangat ganas tapi Didi tidak terlalu mengetahui nya, ia juga pernah bertanya kepada ibu nya tentang penyakit nya  ini sewakru ia berumur 5 tahun..
Didi: Ma, apakah semua anak mengalami hal yang sama sepertiku?”
Mama : (ibu hanya mengangguk dengan sedih)
Didi: berarti Mama dan Papa pernah mengalami hal yang sama sepertiku?
Mama: (kembali mengangguk, dan meneteskan air mata)”
Didi: mengapa Mama menangis? Suatu saat pasti aku akan sembuh seperti papa dan mama, tumbuh besar dan mempunyai keluarga yang bahagia sama seperti keluarga kita”
Mama:mMama menangis karna Mama bangga dengan Didi, Didi pasti bisa, asal Didi rajin minum obat dan selalu teratur terapi pasti Didi bisa sembuh, iya nak”
Didi: iya ma,J”
Itulah pertanyaan polos dari seorang anak yang masih duduk di kelas 1 SD,
Setelah memeriksa ke adaan Didi, ibu pun agak bernafas lega, mereka ber dua akhir nya pulang  kerumah.
Pukul 07:00 malam Ayah Didi pun pulang dari kantor, segera saja ia menemui anak semata wayang nya yang sedang asyik bermain mobil mobilan yang baru di beli 2 hari yang lalu.

Papa: Assalamualikum Didi’’
Didi: waalaikum salam, Papa sudah pulang, (segera memeluk ayah sambil memegang mobil mobilan nya)
Papa: Didi tadi udah cek up kan ?”
Didi: udah Pa, ‘’
Papa:  wah anak Papa pintar ya sekarang,  sebagai hadiah malam ini kita jalan jalan yuk’’?
Didi: horeeeeee, jalan jalan lagi J

Ayah, Ibu ,dan Didi pun pergi ke mall yang tidak cukup jauh dari rumah nya, semua permainan anak anak yang ada di arena permainanan  pun mulai di coba oleh Didi, setelah itu mereka menemani Ibu berbelanja untuk keperluan sehari hari, setelah itu barulah mereka makan malam di sebuah restoran keluarga yang terletak di food court mall itu, semua kehangatan di malam itu membuat mereka larut dalam kebahagiaan sungguh sangat bahagia melihat mereka dalam suka cita , tak ada yang bisa membayangkan bahwa di balik senyum ayah dan ibu tersimpan rasa sakit yang tertuju pada anak nya, pukul 09:00 mereka pun pulang  , di dalam mobil, Didi langsung tertidur di kursi  tengah, mungkin karna ia terlalu lelah.

Dalam keheningan ayah pun mulai berbicara,
+” ma , bagaimana perkembangan kesehatan Didi?”
-“sudah agak membaik mas,,,
,mas aku ga rela bila Didi harus terus terusan menderita penyakit ini, aku takut kehilangan dia mas, kasihan dia,”
+’’ mas tau, mas juga sayang sama banget sama Didi, mas gak bakal biarin Didi kenapa napa, mas janji, mas bakal lakuin apa aja asalkan dia bisa sembuh, kita harus kuat  ma, kita harus yakin kalau Didi bisa hadapi ini semua”
-“ iya mas, aku bakal tetap nge support Didi, aku gak bakal biarin dia tersiksa dengan penyakit nya ini”
+’’iya ma, makasih ya..

3 hari berlalu, Hari ini Didi harus cek up lagi ke dokter, Ayah dan Ibu pun sudah menjemput nya di sekolah, sampai di Rumah sakit mereka pun segera mengantri dan berkonsultasi pada dokter, alangkah terkejut nya Ayah dan Ibu Didi setelah mendengar kabar baik dari dokter, dokter mengatakan bahwa Didi hampir sembuh, namun dengan syarat ia harus menjalani operasi di Singapore secepat nya, saat itu juga Ayah  segera memesan tiket pesawat menuju ke singapore untuk besok pagi, malam pun di sibukan dengan packing, Ayah berencana apabila operasi berjalan lancar mereka akan berlibur sejenak di pulau itu, Didi yang tidak tahu apa apa hanya tahu bahwa besok mereka akan pergi liburan ke negara bermaskot merlion itu.
Pagi pun menjelang,  setelah Ayah, Ibu dan Didi melaksanakan sholat subuh mereka pun berpencar, Ayah sibuk mengecek persiapan yang akan di bawa, Ibu menyiapkan sarapan , Dan Didi yang duduk manis sambil menyaksikan cartoon kesayangan nya Spongebob squerpants, setengah jam berlalu  mereka pun berkumpul di meja makan,  sarapan pagi yang nikmat pun di santap dalam keheningan pagi yang masih agak gelap, setelah sarapan Ibu segera mandi, setelah itu Barulah Ayah dan Didi mandi, pukul 07:00 pun menjelang, semua telah siap siap  untuk berangkat, taksi pun segera di pesan karna tak ada yang mengantar,  setengah jam berlalu untuk sampai di bandara karna  kemacetan yang cukup padat menghalangi aktifitas di Ibu kota,  pukul 08:00 pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera take off, masih tersisa setengah jam untuk pengecekan identitas mereka , pukul 08:00 pun tiba, Ayah, Ibu dan Didi pun sudah berada di pesawat, mereka bertiga sangat menikmati perjalanan, walaupun hanya sebentar setelah itu mereka tertidur pulas, dalam beberapa jam pesawat pun telah lending di changi airport international singapore, Mereka lalu chek in di sebuah hotel di singapore, setelah itu langsung menuju ke rumah sakit terbaik di sana,  Didi pun Di daftarkan, setelah itu mereka pulang untuk istirahat dan mempersiapkan keperluan untuk operasi Didi besok.
Pagi  telah datang , hari ini Didi akan melakukan  operasi pada pukul 10, mereka pun berangkat pada pukul 08:00, persiapan pun dilakukan di rumah sakit, semua mulai di siapkan, kondisi  kesehatan Didi juga harus di siapkan agar tidak terjadi sesuatu yang buruk, 2 jam Didi terbaring di kasur rumah sakit, pukul 10 kini telah menjelang, Didi mulai di bawa menuju ke Ruang oprasi, Ibu dan ayah selalu berdoa demi kelancaran oprasi Didi, saat memasuki ruang oprasi Didi mulai di bius agar ia tidak dapat merasakan apa apa.
Detik demi detik berlalu, amat terasa lama nya waktu berjalan , saat itu pukul 12 telah datang, namun oprasi belum juga selesai di lakukan, waktu zuhur   juga telah datang, Ayah pun mengajak Ibu untuk melaksanakan sholat zhuhur dahulu sambil mendoa kan yang terbaik untuk Didi, mereka pun berlalu untuk melaksanakan sholat Zuhur.
Setelah selesai sholat dan mendoakan Didi ayah dan Ibu segera menuju ruang oprasi, dan ternyata oprasi telah selesai di lakukan, namun Ayah dan Ibu masih belum di izinkan untuk menemui Didi.

+” maaf pak, pasien belum boleh bertemu siapa siapa karna kondisi nya yang belum pulih sempurna, dan di takutkan ia terkontaminasi dengan virus virus karna sisitim imun nya yang masih amat rentan”
“- jadi kapan kami bisa melihat nya dokter? “
+” sekitar 2 jam lagi, tenang saja  pak ,buk oprasi telah berjalan dengan lancar , sekarang anak bapak dan ibu telah sembuh total dari penyakit nya”
-“(serempak mengucapkan lafas Alhamdullilah)”

Karna masih harus menunggu 2jam, Ayah dan Ibu kembali ke hotel untuk mempersiapkan kepulangan Didi dan makan siang di sana, setelah makan siang mereka kembali  ke rumah sakit, sekarang Didi sudah boleh di besuk (kata dokter) ,  ayah dan Ibu langsung saja masuk ke kamar Didi, Didi saat itu terbaring lemas, segera ayah dan Ibu memelik Didi.

+”apakah sekarang Didi telah sembuh?”
-“ iya nak, “
+” apa itu artinya kita akan jalan jalan lagi?”
-“tentu nak, tapi besok , bukan hari ini, karna kamu masih harus menginap di sini selama satu hari”
+”baiklah  pa, ma”

7  Tahun berlalu, didi kini sudah mulai menginjak masa remaja, umurnya kini telah 13 tahun , saat itu ia sudah seperti anak normal lain nya , sejak oprasi  7 tahun yang lalu, Didi tidak pernah lagi mengkonsumsi obat ataupun berulang ulang ke rumah sakit, namun pada suatu hari ketika ia sedang ber olahraga di sekolah , tiba tiba ia menjadi sangat lemas , kepala nya amat terasa sakit, dan saat itu darah segar keluar dari hidung nya.
“Aku mimisan lagi? Ini sering terjadi sewaktu aku kecil dulu, mengapa kini terjadi lagi?(bicara sendiri dalam kebingungan)”
Didi pun memutuskan untuk ke rumah sakit sepulang sekolah nanti, bell sekolah telah berbunyi, Didi tidak di jemput hari ini karna, ia mengatakan bahwa ia akan belajar tambahan di rumah teman nya.
Didi kini telah sampai di lobby rumah sakit terdekat, lalu ia bertanya kepada resepsionist kemana ia harus memeriksakan kesehatan, suster pun lalu membimbing nya menuju ruang dokter, sampai di rung dokter Didi langsung di periksa.

-“apakah dulu kamu pernah mengidap penyakit  leukimia ?”
“+leukimia ? apa itu dokter?
-“leukimia adalah kanker darah,  ia menyebabkan kepala amat sakit, sering mimisan dan cepat lelah”
+”(berkata dalam hati, “itu yang aku alami sewaktu kecil, apakah itu maksud nya?, mengapa papa dan mama dulu mengatakan ini hanya penyakit biasa? Apa mereka tidak ingin aku takut?, ya Tuhan , sekarang aku telah mengerti)”
-“nak?”
+”oh maaf dok, iya aku dulu pernah mengalami penyakit ini, namun telah lama sembuh”
-“ nak, kanker memang kadang bisa sembuh, tetapi ia sewaktu waktu bisa kembali lagi,,. oh ya apakah kamu pergi kesini bersama orang tua mu?”

Pada  saat itu juga Didi terdiam mendengar pernyataan dari dokter yang menangani nya, ia juga ragu apakah harus memberitahukan ini semua pada orang tua nya atau tidak, yang jelas saat ini ia sedang mengalami masa yang amat berat.

-“ dik, apakah kamu pergi bersama orang tua mu?”
+” oh , maaf dok, saya kesini sendirian dok”
-“aduh, gimana ya? Orang tua mu harus tau ini semua, karna ini penyakit yang amat serius”

Didi berfikir , ia tidak ingin ke dua orang tua nya mengetahui ini semua, karna jujur saja, sewaktu  ia kecil ia sering melihat Ayah dan Ibu nya bersedih melihat ia pada saat sedang tidur, kini ia telah mengetahui semua nya, dan iya tidak ingin melihat orang tua nya kembali bersedih untuk yang ke dua kali nya .

+” dokter, bagaimana kalau dokter titipkan saja surat untuk orang tua saya, nanti saya akan berikan sepulang dari sini”
-“ sebenar nya saya dari tadi sudah memikirkan itu, tapi apakah kamu benar akan memberikan   nya kepada orang tua mu?”
+” tentu dok, saya akan memberikan nya”
-“ baiklah,  saya akan menyuruh staff untuk membuat nya, oh ya, karna kamu sangat lama berkonsultasi kepada saya , maka kamu di kenakan biaya tambahan,”
+” loh tadi kan saya udah bayar dok sama suster nya di luar, uang saya juga Cuma tinggal 20ribu,”
-“masa anak kaya kamu Cuma bawa uang segitu, masih kurang 15 ribu lagi, coba saya liat dompet kamu, (mencari nomor telfon rumah), oh baiklah, karna kamu masih pelajar, jadi kamu gratis”
+” aneh banget dok, tapi ya sudahlah, saya mau pulang dulu, makasih ya pak dokter,”

Setelah itu Didi segera bergegas pulang, ia takut orang tua nya akan curiga pada nya jika pulang terlalu senja, dalam perjalanan pulang ia terus berfikir apakah ia akan memberi tahukan kepada orang tua nya, sementara ia takut  sekali kejadian seperti dulu akan membuat ayah dan ibu nya kembali suram
(Berkata dalam hati)
“”ini adalah penyakitku, maka aku lah yang harus melawan nya sendiri, bukan malah memberikan kabar buruk ini pada orang tua ku, dan membuat semua ini menjadi lebih buruk, ya, inilah jalan yang benar, bila aku berakhir karna penyakit ini, maka aku ikhlas karna bagiku Allah telah memberikan yang terbaik pada ku dan mungkin sampai di situlah akhir perjalanan hidupku, namun aku akan terus berusaha melawan penyakit ini,  walau aku sendirian, ya, aku pasti bisa!””
Hari hari berlalu, semakin hari kesehatan Didi semakin  drop, namun ia selalu menyembunyikan itu semua dari orang tua nya,  sampai suatu hari pada saat sekolah Didi pingsan, segera saja ia di bawa ke rumah sakit tempat ia pernah berkonsultasi, pada saat itu dokter yang pernah menangani Didi segera menelfon no rumah orang tua Didi yang pernah di catat oleh dokter sewaktu melihat dompet Didi.
Satu jam kemudian Didi mulai tersadar, ia mulai melihat di sekeliling nya, ia tahu sekarang ia sedang berada di mana, ia juga melihat ayah dan ibu nya yang sedang tertidur karna kelelahan menjaga nya, saat itu Didi sedang menggunakan alat bantu pernafasan, ia juga di infus, saat itu Didi hanya termenung sambil memikirkan apakah yang terjadi barusan pada nya, ia melirik arloji nya yang menunjukan pukul 3 sore, ia juga berfikir apakah ke dua orang nya kini telah mengetahui tentang penyakit nya kini,  itulah  yang terus terusan di fikirkan Didi hingga kondisi nya menjadi drop lagi dan kembali tertidur, hanya terasa sebentar namun pada saat Didi tertidur ia merasakan sebuah tusukan yang cukup pedih di tangan kanan nya yang membuat ia terbangun, saat Didi sadar ternyata seorang dokter sedang menyuntikan sebuah obat kepada nya, ia juga melihat Ayah dan ibu nya yang dari tadi sibuk memandangi nya, saat ia melihat jam Dinding ternyata sudah menunjukan pukul  7:32 malam, ternyata ia telah tertidur selama 4 jam lebih, setelah dokter selesai dengan tugas nya dokter pun segera keluar, dan alat bantu pernafasan Didi juga telah di lepas karna tekanan pernafasan nya sudah kembali normal, saat itu Ayah memulai pembicaraan.

Papa: (dengan nada agak meninggi)  Papa telah mengetahui semua nya Didi, dokter Bagus yang menceritakan semua nya pada Papa, kenapa kamu menyembunyikan semua ini? , apa kamu tidak sayang kepada Papa Dan Mama?
Didi: maafin Didi pa, ma.
Mama: Didi , mama kecewa dengan kamu, ini masalah serius kenapa kamu tidak memberi tahu papa dean mama jauh hari,  lihat kondisi kamu sekarang, semakin memburuk Didi.
Didi: Ma Didi tau, tapi Didi gak mau nyusahin papa dan mama lagi!
Papa: apa maksud kamu menyusahkan kami, kami adalah orang tua mu, tidak ada posisi yang di susahkan saat ini, coba kamu lihat mama kamu sekarang, apa kamu ga kasian?
Didi: pa, ma cukup ! apa kalian fikir Didi selama ini ga tau apa yang Mama dan Papa sembbunyiin dari Didi? Didi capek pa , ma , Didi tau kalo selama ini Didi udah mengidap penyakit mematikan ini, selama ini papa mama gak pernah ceritain ini juga kan sama Didi !
Mama: kamu itu masih kecil Didi, Kami ngga mau kamu tau  masalah penyakit ini karna kamu pasti  bisa tambah Drop!
Didi: Ma, Didi sekarang Sudah 13 tahun, apakah itu masih terlalu kecil?  Didi Sekarang udah tau mana yang salah dan benar, Didi kecewa ma, Didi sedih kalo ingat kalo papa dan mama sering liatin Didi tidur sambil  nangis, Didi ngerasa bersalah banget sama Papa dan Mama , Didi shok setelah tau itu semua dari orang lain, dan bukan dari papa atau mama, sekarang Didi benar benar hancur pa ma..
 Mama: (memeluk Didi sambil menagis)  maafin Papa dan Mama nak, tapi percayalah kami ber dua hanya ingin yang terbaik untuk kamu.
Didi: iya ma, maafin Didi , Didi tau, Didi juga gak maksud buat ngebentak dan Marah ke Papa dan mama, maafin Didi.

Pada saat itu mereka bertiga saling berpelukan.
Papa: (Tertawa) Sudah sudah, Ma jangan nagis lagi, liat tu Didi, dia yang sakit  tapi justru dia yang tegar, ayo donk ma, kasih semangat buat Didi , karna Papa yakin pasti dia bakal lepas dari penyakit ini.

Mendengar ucapan dari Ayah nya, Didi pun mulai tertawa, ia memebenarkan apa  yang di katakan oleh papa nya barusan tadi pada nya, saat melihat Didi tertawa lepas maka Ibu nya pun tersenyum dan berharap suatu keajaiban akan terjadi pada putra nya.

Didi: ma? Ingat ngga waktu kecil Didi pernah nanyain maslah kematian ke Mama? Pertanyaan yang konyol ya ma? Tapi karna pertanyaan itu Didi selalu menanamkan sikap yang baik agar Didi bisa masuk surga, Didi juga yakin , Papa dan Mama juga akan masuk surga, hingga akhirnya kita akan bertemu lagi, karna papa dan mama selalu mengajarkan hal yang baik pada Didi, Didi di ajari Sholat 5 waktu, Mengaji, puasa dan sadakoh, Didi benar benar sayang pada kalian , dan Didi selalu berdoa supaya Allah menyayangi kalian seperti kalian menyayangi Didi.

Mama: (meneteskan air mata) ianak , mama bangga sama Didi, Mama dan papa juga sangat menyayangi Didi dan selalu mendoakan Didi setiap kami sholat, Mama dan Papa akan selalu ngedukung Didi, ingat Itu Didi.

Didi: makasih ya Ma, pa maaf ya, mungkin kali ini Didi bakal nagis karna Didi mulai ingat kenangan kita bersama sewaktu Didi kecil hingga sekarang , bolehkan pa? Oh ya , kalau Didi udah keluar Dari rumah sakit ini , Didi mau kita jalan  jalan lagi ya pa, kita makan, nonton , main dan ngelakuin apa aja oke.
Papa : (hanya menangis dan mengangguk) maafin papa Di, papa jadi ikutan nagis ni, oke Papa janji akan menuhi permintaan kamu asalkan kamu bisa sembuh! (Menggenggam tangan Mama dan Didi dengan penuh ke yakinan)

Tiba tiba seorang suster masuk ke kamar Didi.
Suster : maaf pak, buk, ada yang ingin dokter bicarakan pada kalian ber dua di ruangan nya.
Papa & Mama: ( memandang Didi)
Didi : temui dokter nya Pa, Ma, Didi mau istirahat dan tidur dulu.
Papa: baiklah Didi, kami akan segera kembali ( mencium dahi Didi dan di ikuti oleh Mama, setelah itu berjalan menuju Pintu keluar)
Didi: Papa, Mama, segera temui Didi ya, oh ya, nanti bila Didi udah tidur kalian cium dan peluk Didi lagi ya,, J
Mama: ( kembali menuju kasur Didi dan mencim nya) iya sayang, Mama pergi dulu ya..
Didi : iya ma.. J

Pada saat itu Ayah dan Ibu Didi segera menuju ke ruangan Dokter Bagus, karna mereka tak ingin Didi terlalu lama menunggu nya, setelah sampai dokter Bagus mengatakan kabar buruk, bahwa kemungkinan Didi untuk sembuh hanya tinggal 15% , karna ia sudah terlalu lama mengidap penyakit ini, dan tak segera di tangani, pada saat itu terjadi percakapan hebat antara Dokter Bagus dan orang tua Didi, mereka mengatakan akan melakukan apa pun asalkan Didi bisa sembuh, namun Dokter bagus tidak berani menjanjikan apa pun, dan hanya mengharapkan mukjizat dari tuhan, bahkan ia tidak tau sampai kapan Didi akan bertahan, namun dia berjani akan berusa sekuat mungkin untuk membantu menyembuhkan Didi. Setelah percakapan selesai, Ayah dan Ibu Didi Segera kembali menuju kamar Didi.

Papa: Assalamualaikum Didi?......................, apakah jagoan Papa sudah Tidur?

Pada saat itu Ayah dan Ibu Didi segera menghampiri Didi, mereka berdu serentak mencium pipi Didi dan memeluk Didi, pada saat memeluk Ayah Didi mulai menagis, ia merasakan ada yang aneh pada anak nya, tubuh Didi yang Dingin, badan nya yang kaku, membuat ayah Didi semakin cemas, pada saat itu Ayah Didi segera memandang istri nya dengan wajah yang tidak percaya, saat itu Ibu Didi membalas melihat wajah suami nya, Sebenar nya ia juga merasakan hal yang sama, namun ia lebih memilih untuk tidak mempercayai insting ia dan suami nya.

Mama:  apa maksud mu Mas melihat ku dengan wajah seperti itu, mengapa kamu mengis, kamu tadi yang bilang bahwa tak ada yang boleh menangis iyakan? Iyakan mas !!
Papa: (memegang pergelangan tangan Didi) dia sudah pergi( menagis )
Mama: (menangis) ngga mungkin mas, NGGA MUNGKIN !!?
Papa: merangkul istri nya dengan kasih sayang yang amat dalam dengan penuh kesedihan, Didi sudah kembali sekarang kita harus ikhlas, dia akan baik baik saja..

Pada saat itu suasana kamar Didi hanya terdengar suara tangisan sendu, dokter dan suster masuk ke kamar Didi dan kembali memeriksakan ke adaan nya, saat itu Ibu Didi hanya bisa menangis saat melihat tubuh anak yang ia rawat dari kecil kini telah terbalur kain putih seluruh nya.
Pada saat itu Ayah Dan Ibu mulai mengerti maksud dari kata kata terakhir yang di sampaikan oleh Didi, ia akan tidur dan ber istirahat untuk selama lama nya, Didi juga berpesan kepada orang tua nya, agar cepat kembali menemui nya dengan maksud bertemu di  tempat lain yaitu surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar